origami bangau kertas
Review & Reportase

Kisah Bangau Kertas dan Harapan Yang Tak Pernah Mati

Barangsiapa yang mampu melipat 1000 bangau kertas, maka ia akan mendapat satu harapan untuk dikabulkan – Legenda Jepang

bangau kertas
Origami bangau kertas

Sewaktu kecil dahulu saya pernah membaca buku yang meninggalkan kesan mendalam, bercerita tentang seorang gadis kecil yang berjuang melawan kanker darah. Sayangnya saya lupa, judul bukunya apa dan siapa nama gadis kecil itu. Saya hanya ingat tentang harapannya untuk sembuh yang dituangkan dengan melipat 1000 origami bangau kertas.

Berbekal kata kunci 1000 bangau kertas, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari. Simbah Google memang top markotop πŸ˜€ Ternyata cerita itu merupakan kisah nyata yang terjadi di Jepang.

Sadako dan 1000 Bangau Kertas

Sadako Sasaki, masih berumur 2 tahun saat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ‘Little Boy’ pada tanggal 6 Agustus 1945, di dekat rumahnya di sekitar jembatan Misasa, Hiroshima, Jepang. Rumahnya hanya berjarak sekira 2 kilometer dari titik bom meledak dan menghacurleburkan sekelilingnya. Bom atom tersebut membunuh sekitar 140.000 orang yang ada di kota tersebut. Sadako kecil ditemukan selamat dan tidak mengalami luka serius sementara sebagian besar tetangganya menjadi korban bom tersebut.

Selepas masa perang, Sadako menjalani masa kecil yang relatif normal meskipun dia dan keluarganya hidup serba kekurangan. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang ceria dan memiliki kemampuan lari yang menjadikan kelasnya langganan juara lari estafet. Hingga suatu hari saat usianya 11 tahun, Sadako terjatuh di tengah perlombaan yang sedang diikutinya. Sejak saat itu hidupnya pun berubah. Tubuhnya makin lunglai.

Bulan November 1945, leher dan bagian belakang telinga Sadako membengkak. Dua bulan kemudian bercak ungu bermunculan di kedua kakinya. Pada bulan Februari 1955, Sadako dilarikan ke rumah sakit. Menurut diagnosis dokter, ia menderita sakit leukimia dan hanya memiliki waktu kurang dari setahun. Leukimia, atau kanker darah, pada masa itu dikenal sebagai penyakit akibat bom atom karena diderita oleh banyak anak-anak yang terkena radiasi.

Sadako Sasaki (1943-1955)
Sadako Sasaki (1943-1955)

Tanggal 3 Agustus 1955, seorang sahabat Sadako bernama Chizuko Hamamoto datang menjenguk. Dia mengingatkan Sadako sebuah legenda Jepang yang sudah diceritakan turun temurun tentang Kisah Bangau Kertas. Di Jepang, Bangau adalah salah satu simbol panjang umur. Dan ada legenda Jepang yang menyebutkan bahwa konon seseorang yang bisa melipat 1000 bangau kertas, akan dikabulkan permintaannya oleh para Dewa berupa umur yang panjang atau sembuh dari penyakit

Chizuko memotong secarik kertas emas agar berbentuk persegi dan melipatnya menjadi burung bangau kertas, lalu memberikannya pada Sadako. Ini adalah bangau kertas yang pertama. Harapan terbesar Sadako agar dapat sembuh menjadi penyemangatnya untuk melipat dan terus melipat. Karena kekurangan kertas, Sadako menggunakan kertas apapun yang bisa didapatkannya termasuk kertas obat, ataupun koran, bahkan terkadang Sadako berkunjung ke kamar pasien lain untuk meminta kertas dari dari bingkisan para pembesuk. Chizuko dan teman-temannya juga membawa kertas dari sekolah untuk digunakan oleh Sadako.

Hingga ia tiba di bangau kertas yang ke 644, kondisinya semakin memburuk, terlalu lemah untuk melipat dan meninggal tak lama kemudian di usia 12 tahun. Impiannya tentang 1000 bangau kertas dilanjutkan oleh keluarga dan teman-temannya. Pada akhirnya 1000 bangau kertas tersebut dikubur bersama Sadako. Mereka juga membuat patung Sadako sedang memegang bangau kertas emas di Taman Perdamaian Hiroshima.

Kenapa tiba-tiba saya teringat akan Kisah Bangau Kertas ini?

Di penghujung 2017 kemarin, saya dan beberapa teman Blogger Makassar berkunjung ke Rumah Singgah Alfamart Alfamidi yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan. Bukan baru sekali ini saya datang, sebelumnya sudah pernah berkunjung di awal tahun 2017.

Baca tulisan saya saat Berkunjung ke Rumah Singgah Alfamart Alfamidi.

Nah di kunjungan kali ini adalah untuk menghadiri sosialisasi Donasiku Alfamart bersama para kasir toko Alfamart yang tersebar di beberapa wilayah Makassar yang memiliki jumlah konsumen tinggi per harinya. Kasir inilah yang berhadapan langsung dengan konsumen dan menjadi ujung tombak bagi perusahaan. Mereka diharapkan mampu memberikan keterangan sejelas-jelasnya kemana sebenarnya uang kembalian yang biasa kita donasikan melalui ALfamart.

Sosialisasi DOnasiku Alfamart
Sosialisasi Donasiku Alfamart bersama kasir Alfamart

Donasiku Alfamart dan Harapan Anak-anak Penderita Kanker

Bagi para konsumen Alfamart, saya yakin sering sekali mendengar pertanyaan seperti ini β€œ200 rupiahnya mau diambil atau didonasikan Pak/Bu?”. Sebagian memilih untuk berdonasi, sebagian lagi memilih untuk mengambil uangnya.

Sempat beredar selentingan kabar miring bahwa uang dari yang terkumpul dari Donasiku tersebut tidak jelas penyalurannya ke mana dan diterima oleh siapa, bahkan ada yang mengatakan masuk ke kantong kasir Alfamart.
Jadi, dari sosialisasi tersebut, terungkap bahwa uang kembalian berupa recehan 100-400 rupiah dari konsumen yang dikumpulkan ternyata untuk berbagai kegiatan sosial yang dapat membantu masyarakat. Hanya sampai sebatas 400 rupiah saja, untuk kembalian 500 rupiah maka tidak akan diminta kesediaannya untuk berdonasi. Pun dalam menanyakan donasi tersebut, para kasir tidak boleh memaksa atau berdebat dengan konsumen.

Nah Rumah Singgah ini adalah salah satu wujud dari donasi tersebut. Saat ini sudah ada 4 Rumah Singgah hasil Donasiku yaitu di Makassar, Pekanbaru, Semarang, dan Malang. Keempat lokasi itu juga dikelola oleh YKAKI untuk menjadi tempat singgah pengobatan anak-anak pengidap kanker.

Ibu Nurul dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Makassar
Ibu Nurul – YKAKI Makassar

Ibu Nurul dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Makassar, yang diberi kepercayaan untuk mengelola Rumah Singgah Alfamart di Makassar, mengatakan bahwa mereka sangat terbantu dengan donasi dari konsumen Alfamart.

Runah Singgah menawarkan tempat tinggal sementara secara gratis kepada anak-anak penderita kanker dari luar kota Makassar, yang tidak punya tempat tinggal sementara mereka berobat di sini. Rumah sakit yang dijadikan rujukan untuk kawasan Indonesia Timur adalah Rumah Sakit Dr. Wahidin Soedirohusodo Makassar. Makanya banyak pasien yang berasal dari luar Sulawesi Selatan seperti dari Kendari, NTB, Palu bahkan dari Sorong. Karena dari luar daerah, tentu butuh penginapan atau kost, padahal pengobatan kanker tidak hanya sekali atau dua kali. Waktu yang dibutuhkan tidak sebentar melainkan berbulan-bulan, tentu ini membutuhkan biaya kost, transportasi, dan makanan yang tidak sedikit. Padahal, sebagian besar dari para pasien tadi berasal dari keluarga kurang mampu. Di sinilah Rumah Singgah berperan penting.

Bahkan menurut Ibu Nurul, ada keluarga pasien yang memiliki saudara di kota ini tetapi memilih tinggal di Rumah Singgah. Di sini, merreka seperti memiliki keluarga baru, Perasaan senasib antara orang tua pasien menjadikan mereka saling menguatkan. Dukungan dari sesama keluarga pasien dan pengurus yayasan menjadi support system satu sama lain.

Fasilitas Rumah SInggah
YKAKI Cabang Makassar

Beragam fasilitas yang disiapkan di rumah singgah, transportasi ke dan dari rumah sakit, hingga kebutuhan sehari-hari anak-anak pasien penderita kanker berasal dari Donasiku Alfamart. Setiap hari, disiapkan makanan sehat termasuk buah-buahan untuk anak-anak. Harus dipastikan makanan tersebut non msg, bebas pengawet, dan betul-betul segar. Jadi makanannya memang dijaga.

Saat masuk ke ruangan Sekolahku, fasilitas sekolah yang disiapkan Rumah Singgah, pandangan mata saya tertuju pada bangau-bangau kertas yang tergantung di langit-langit dan tertempel di dinding. Di sinilah saya tiba-tiba teringat tentang kisah bangau kertas. Terlebih ketika mendengar penjelasan Ibu Maryam bahwa sebagian besar anak-anak yang pernah di sini adalah penderita leukimia.

Ruangan Sekolahku Rumah SInggah Alfamart
Ruangan Sekolahku

Pasien yang boleh tinggal di sini adalah anak-anak berusia 0-17 tahun. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak dibuka tahun 2014 lalu sudah ada sekitar 96 anak yang pernah singgah di sini. Menurut ibu Maryam, koordinator Rumah Singgah ini, sebagian pasien tersebut berhasil sembuh dan pulang ke kampung halamannya, sebagian lagi tidak  Saya teringat anak kecil penderita tumor mata yang sempat saya lihat saya berkunjung bulan Maret 2017 yang lalu, dan menanyakan kabarnya ke Ibu Maryam. Ternyata sudah meninggal hiks Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Jadi manteman, jangan khawatir ke mana larinya uang yang kita donasikan saat berbelanja di Alfamart. Pengumpulan donasi ini resmi, sudah ada persetujuan dari Menteri Sosial. Nanti semua hasil donasi yang terkumpul dari konsumen akan langsung diteruskan ke yayasan sosial yang ditunjuk, dan salah satunya YKAKI ini. Pihak Alfamart tentu saja tetap harus membuat laporan pertanggungjawaban hasil donasi dan penyalurannya.

Kado Semangat anak-anak penderita kanker
Kado Semangat

Bahwa mengikhlaskan uang seratus dua ratus perak yang tidak berarti banyak bagi kita ternyata bisa membantu kelangsungan hidup anak-anak penderita kanker. Melalui Donasiku Alfamart, mari mengulurkan tangan demi kesembuhan anak-anak tersebut. Semoga kita bisa menjadi harapan bagi anak-anak tersebut, seperti kisah Legenda Bangau Kertas yang selalu memberikan semangat yang positif akan sebuah harapan kesembuhan.

Karena berbagi tidak pernah rugi, setuju?

8 thoughts on “Kisah Bangau Kertas dan Harapan Yang Tak Pernah Mati”

  1. Saya tdak pernah ikhlas mendonasikan recehan saat belanja di Alfamart gara-gara informasi yang berseliweran itu. Berarti saya sudah termasuk korban hoax di …
    Andaikan Alfamart memberikan informasi yang akurat, misalnya foto-foto yang ditempelkan atau semacamya, pasti akan semakin banyak orang yang ikut berpartisipasi.

  2. Ternyata berita tentang donasi yang pernah di share waktu itu hanyalah berita hoax belaka. *hiks
    Donasi customers untuk customers, bisa jadi yang menerima donasi juga sering belanja di Alfamart. Bagus sekali informasinya Ka Nanie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *