Category Archives: Ordinary Life

kodingareng kekeLaut. Biru. Langit. Biru.

Siapapun yang melihat biru laut berpadu dengan langit biru, akan merasakan sesuatu bergetar di hatinya. Saya jatuh cinta pada laut, bertahun lalu.

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam – Dua Sisi.

Read More →

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga – Perempuan Inspiratif

Tahun lalu, demi mewujudkan salah satu resolusi 2012, saya memutuskan belajar bahasa Iggris di Kampung Inggris Pare selama 3 bulan. Berangkatlah saya berdua dengan vby  di bulan Februari 2012, membawa cita-cita di dada, 3 bulan ke depan saya sudah harus bisa bahasa Inggris cas cis cus :))

Sementara diedit, jangan dikomen dulu yaaaa :))

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua – Rasa Lokal.

Awal tahun sepertinya memang menjadi masa panen buah-buahan lokal. Di mana-mana muncul penjual buah dadakan di pinggir jalan. Rambutan, langsat, manggis, durian, mangga, sirsak dan lain-lain. Buah-buah lokal ini bermunculan dan mendadak jadi primadona yang berusaha menggeser keberadaan buah impor.

Buah Lai Kaltim

Buah Lai, sejenis durian. Mirip durian, tapi tidak berbau.

Ngomong-ngomong tentang durian, aroma buah ini memang yang paling menguar di antara buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalan. Seakan-akan memanggil-manggil, mampir dong kak :)) Ada yang saking cintanya sama buah yang bernama durian ini, sampe rela hunting durian ke mana-mana. Jika traveling ke suatu tempat yang terkenal akan kuliner duriannya, maka dia akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi tersebut sesempit apapun waktu yang dia miliki.

Read More →

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama – Sekitar rumahmu.

Saya pernah menulis beberapa tahun lalu tentang betapa seringnya saya berpindah-pindah kost, bahkan beberapa teman saya menjuluki saya nomaden hahahha 13 kali berpindah kost dalam kurun waktu 15 tahun sejak saya meninggalkan rumah orang tua saya di Palopo sana. Entah berapa banyak cerita yang terjalin dalam kurun masa itu, suka dan derita. Dan semua cerita itulah yang menempa diri saya menjadi lebih cair dan lebih mampu membuka diri.

Tapi di sini saya tidak akan berbagi kisah tentang sekian banyak kost tersebut. Bagaimana pun saya masih punya sebuah tempat yang saya sebut rumah, meskipun sejatinya rumah tersebut adalah milik orang tua saya. Di sana, di sebuah desa yang semakin berkembang menuju kota kecil bernama Batusitanduk, Kec Walenrang. Desa yang kemudian saya sebut sebagai kampung halaman.

jalan kecil depan rumah

Jalan kecil depan rumah

Read More →

Masih ingat saya pernah menuliskan 3 Resolusi di tahun 2012? Salah satunya adalah belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris – Pare. Nah, di awal February 2012 ini, saya berusaha mewujudkan resolusi pertama saya.

bandara hasanuddin MakassarBandara Hasanuddin – Makassar

8 February 2012, akhirnya saya meninggalkan Makassar dengan tujuan Pare – Kediri. Rencana awal sebenarnya tanggal 23 Januari tetapi ada rangkaian acara Ulang Tahun Astamedia yang membuat saya memutuskan untuk memindahkan jadwal keberangkatan ke awal February.

Berdua Vby, kami janjian bertemu di Bandara Hasanuddin pukul 08 pagi karna pesawat Citilink yang akan membawa kami berangkat pk 09.20 WITA. Sayangnya, hujan turun sepagian. Tadinya akan berangkat ke Bandara diantar anbhar pake motor saja soalnya barang yang saya bawa tidak banyak, cuman 1 koper kecil dan 1 tas ransel. Tapi karna hujan akhirnya harus naik taksi.

Bandara Hasanuddin MakassarPhoto dulu sebelum berangkat :D

Saya tiba di bandara Hasanuddin sekitar pk 08.30 WITA, telat 30 menit dari jam yang ditentukan *blame the rain hahaha :D Sudah ada Vby menunggu bersama keluarganya. Setelah berkenalan dengan orang tua Vby dan ngobrol bentar, saya dan Vby lalu masuk untuk checkin di counter Citilink lalu keluar lgi ke Dunkin Donut beli sarapan dan pamitan ke orang tua Vby & Anbhar. Dikasi tanggung jawab besar, “dititipi Vby” #ihik. Artinya: kalo Vby macam2, boleh saya jewer kan ya?? hahahha :D

Makassar dari udaraBye Makassar, see you :)

Karena keasikan ngobrol, kami telat masuk ke gate 3. Sudah panggilan terakhir, lari2 deh :)) Tepat ketika akhirnya masuk ke belalai pesawat (namanya apa ya :D) terdengar nama kami di panggil melalui pengeras suara =)) Alhamdulillah, cuaca cerah mulai berangkat hingga mendarat di Bandara Internasional Juanda sekitar pk. 11 WIB. Kami lalu nunggu jemputan travel yang sebelumnya sudah dihubungi via telpon.

Kenapa akhirnya saya pilih untuk menggunakan jasa travel? Padahal pake bis juga bisa kok dan lebih murah pula. Tapi yaa kenyamanan dan keamanan tidak ditanggung :D

Surabaya, dari udaraWelcome to Surabaya

Bandara Juanda SurabayaBandara Juanda – Surabaya (photo: Vby)

Perjalanan Surabaya – Kediri memakan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan kami tertidur soalnya semalam begadang untuk packing abis itu bangun subuh untuk bersiap-siap. Sesekali terbangun untuk mengecek, kami sudah tiba di daerah mana. Jam 3 lewat akhirnya tiba di Kampung Inggris Pare. Sopir travelnya bingung, soalnya kami gak tau alamat yang dituju dan sepupu Vby yang berkali-kali ditelpon juga gak jelas kasi petunjuknya. Karna lama muter-muter, kita diturunkan di depan Mahesa Course, Jl. Mawar. Bayar ongkos travelnya dan menunggu dijemput sepupu Vby soalnya Herman lagi ada kelas.

Akhirnyaaaaa, saya tiba juga di sini, the famous Kampung Inggris ;)

Tips menuju Kampung Inggris – Pare:

* Saya pilih penerbangan pagi dari Makassar – Surabaya, dengan memperkirakan waktu tempuh Surabaya – Kediri sekitar 3-4 jam. Jadi tidak akan kemalaman di perjalanan. Ini penting, mengingat ini perjalanan pertama saya ke Kediri dan tidak ada yg menjemput di Bandara.

* Rute Surabaya – Pare, saya pilih untuk menggunakan jasa travel. Yang pertama tentu saja alasan keamanan, yang kedua kenyamanan :D Ohya, pastikan jasa travel yang dipilih adalah travel yang terpercaya.

* Jika ingin menggunakan jasa travel dari Bandara Juanda menuju Kampung Inggris, pastikan sudah ada kesepakatan harga sebelumnya. Waktu itu saya tidak menanyakan harga, hanya berpatokan pada informasi yang didapatkan dari sepupu Vby bahwa ongkos travel Surabaya – Pare itu Rp 55.000/orang. Pas mau bayar, eh dikasi kwitansi Rp 80.000/orang.

* Sebenarnya dari Surabaya ke Pare bisa juga menggunakan Bus. Cuman rutenya jadi lebih ribet, lebih tidak nyaman pastinya, keamanan tidak dijamin tetapi memang sih ongkosnya lebih murah. Dari Bandara Juanda – naik damri ke Terminal Bungurasih (biaya Rp 15.000) – naik Bus Patas Rukun Jaya yang melewati Pare, hati2 dengan calo!! (biaya Rp 20.000-25.000) – Turun di perempatan Tulungrejo, naik becak ke Kampung Inggris (biaya Rp 10.000).

* Jasa travel Surabaya – Pare yang kami gunakan, siapa tau ada yang butuh :)
Trans One Travel
Telp Surabaya: 031-5027528, 5011929, 95027528, 95011929
Telp Kediri: 0354 – 7009972, 7009927, 672444, 672555