Parenting & Family

Bersabarlah Wahai Ibu

1457401381387.jpg

Alhamdulillah, babyjo menjelang 2 tahun. Semakin ke sini, gayanya semakin banyak, permintaannya juga semakin banyak. Dia bukan lagi bayi yang selalu menurut. Keinginannya semakin banyak dan kadang-kadang saya kewalahan menurutinya.

Makan tidak mau disuap lagi, minta cemilan ini itu, buka kulkas mau biskuit, mau kerupuk, minta teh, mau jalan-jalan sore, main mobil-mobilan, mau nenen, mau mencuci, ikut ke kamar mandi, mau ikut masak, bongkar sana sini, angkut sana sini, makin cerewet dan jika keinginannya tidak dituruti, dia sudah pintar pake senjata andalannya, nangis :))

1457854263161.jpg

1457853693579.jpg

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah curhatan ibu-ibu yang rame dishare di facebook. Bacanya bikin hati nyess, soalnya pas banget saya lagi suntuk. Merasa capek, merasa kurang tidur, mau santai-santai baca buku, mau tidur sepuasnya, mau jalan-jalan. Ibu juga manusia kan ya dan sebagai manusia ya wajar jika kadang-kadang kita merasa seperti itu.

Pas baca curhatan ini, hati saya serasa dicubit. Iyya waktuku tak banyak. Gak papa deh, ada yang gelendotan sepanjang hari, mau ke kamar mandi saja susah soalnya pasti ada yang gedor-gedor pintu :)) mau duduk kerja depan laptop juga susah soalnya ada yang datang-datang langsung bilang, tutup, impan(g), sana (sambil tunjuk keluar) 😀 mau leyeh-leyeh di tempat tidur juga susah, soalnya si anak kecil ga bisa liat saya baring pasti langsung bilang, ndaaa nenen –“

Waktuku tak banyak, ayo simpan hape dan laptopnya, main yukkk babyjo, mari menciptakan kenangan indah.

1457860091875.jpg

1457854028100.jpg **

bersabarlah wahai ibu…..waktumu hanya sebentar….

bersabarlah wahai ibu, jika anakmu mengujimu
dengan rumah yg tak pernah rapi
dengan ocehannya yang bertanya berulang-ulang hal yang ia suka
dengan manjanya, dengan aktifnya ia yang berjalan kesana kemari yang harus kau kejar dengan peluh
dengan gaya tutup mulutnya dari masakan yg kau buat….

bersabarlah wahai ibu….
dengan ‘perlengkapan’ perang anak berupa sendok dan gunungan tanah di terasmu
dengan robekan majalah yang bertebaran serpihannya dan selipan di antara sofamu
dengan rasa percaya dirinya yang amat besar tak mau kau suapi walau belepotan
dengan pilah pilihnya dia pada baju kesayangannya walau sudah kumal
dengan seabreg rutinitas mengobrak abrik susunan buku di dalam rak bukumu…

bersabarlah wahai ibu….
jangan kau buat luka yang tak pernah kering dengan bentakanmu
jangan kau pupuskan harapannya dengan merendahkan percobaannya walau hasilnya berantakan karena kurang sabarnya kau melihat ia berlatih menyuapi dirinya
jangan kau hambat perkembangan otaknya dengan ribuan larangan yang sebenarnya tak berbahaya bagi dirinya, hanya karna lelahnya kau rapikan peralatan percobaannya…

bersabarlah wahai ibu….
jangan kau paksakan didikan generasimu diturunkan padanya yang sejatinya masanya dan masamu jauh berbeda
begitu pula kebutuhannya dan kebutuhanmu kala itu berbeda
jangan kau tanyakan kenapa ia tidak pernah mengerti kesalahan yang ia perbuat
berlemah lembutlah dalam menegur kelalaiannya…
bukankah kelembutan menghasilkan kebaikan?

bersabarlah wahai ibu….
belajarlah tak mengenal lelah dalam tahapan perkembangannya…
berjiwa besarlah wahai ibu dalam menghadapi semua kekuranganya…
pecutlah semangat perbaikan akhlakmu yg kan menyelaraskan baiknya akhlak anakmu…
luruskanlah dan perbaharuilah setiap niatmu dalam mendidik anak
yang kelak semoga mencetak generasi berikutnya menjadi lebih baik….

karena….

tak terasa waktu bergulir amat cepat….
putri manismu yang dulu selalu meminta digendong kesana kemari…
sampai-sampai memasakpun ia merajuk tuk digendong krn penasaranya pada apa yang ada dalam kuali….
tak terasa tau tau dia sudah tumbuh dewasa dan menjadi gadis…
yang tak bisa lagi kau gendong…
tak mau lagi kau ciumi dengan manja…
tak memintamu lagi, tuk jalan-jalan sore menatap daun daun kekuningan dengan sepeda mininya lagi…
tak bisa lagi kau ciumi wangi keringat di pagi harinya….
ya! kini ia sudah jauuuhhh di depanmu….

tak terasa waktu bergulir amat cepat….
putra kecilmu yang dulu selalu meminta mainan baru
yang setiap pagi seusai mandi mengeluarkan pritilan robot-robotan yang tak terbilang banyaknya di lantai ruang mainnya yg sudah kau rapikan….
yang kadang merengek sesenggukan meminta main hujan-hujanan….
yang dengan wajah ‘sandiwara’nya memerankan jagoan kesukaanya sambil tertawa…ha..ha..ha..ha…
kini….
tak bisa lagi kau gendong…
tak mau lagi kau ajak bermain kucing-kucingan…
tak mampu lagi kau jewer telinganya krn tak dengar titahmu…
kini ia sudah dewasa, suaranya sudah berat dan dadanya tegap….

ukirlah masa indah mereka dengan segunung kesabaranmu
karna masa masa indah itu hanya sebentar sebagaimana sebentarnya matahari terbenam di waktu senja….

dari seorang ibu rumah tangga yang berlumur dosa…
ampuni hamba ya Robb.

-dari Ummu ‘Urwah Hafidzohallah-

10 thoughts on “Bersabarlah Wahai Ibu”

  1. Huaaaa…kemudian speechless 🙁
    sampai kira tulisannya ini Kak Nanie yang buat, malah kaget ada nama penulis di akhirnya..

    Rani lagi ndak bisa dikontrol, waktu kecil kan masih kalem, sekarang ya itu permintaannya ndak dituruti langsung nangis sedih sekali. Belum lagi kalau sampai guling-guling di lantai 🙁

    Terus dia heran sekali lihat foto-fotonya waktu masih kecil yang tertawa riang sekali. “Ma, Rani waktu kecil lucu ya?”
    Gitu katanya..
    >,<"

    1. Aww sudah pintarmi juga pake senjata andalan :))

      Iyya, ini tulisan yang banyak dishare di TL fbku, saya pindahkan ke sini sebagai pengingat 😀

  2. Bersabarlah ibu …. itu kucinya.
    *menasihati diri sendiri untuk yang ke sekian kalinya*

    Affiq sekarang sudah lebih tinggi daripada saya. Sudah lebih tinggi dari papanya.

    Dulu kayak Baby Jo juga. Kalau bilang, sekarang, tidak terasa waktu berlalu.

    Sekarang Athifah dan Afyad yang “masih kecil” tapi tak lama lagi mereka pun makin tinggi dan tinggi …

    Dan memang, jadi ibu harus punya banyak kesabaran.

    TFS, Nanie …

    1. Saya harus betul-betul belajar banyak ini kak, mungkin nanti kapan-kapan bisa qta share soal mengelola emosi dalam menghadapi tiga orang anak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *